Kamis, 17 Februari 2011

MEMBUKA HIJAB

MEMBUKA HIJAB

Istilah hijab sebenarnya baru muncul setelah orang mulai serius mendalami pengetahu-an tentang ma’rifatullah, segala cara amalan ibadah diterapkan untuk memudahkan sampainya seseorang kepada tingkat mukhlasin. Yaitu orang yang benar-benar berada dalam keadaan rela dan menerima Allah sebagai Tuhannya secara transendent. Amalan amalan ibadah yang mereka lakukan merupakan kutipan-kutipan perintah ibadah sunnah maupun yang wajib. Sehingga mereka menyakininya bahwa mutiara-mutira Alquran itu benar adanya.

Hijab adalah tirai penutup, didalam ilmu tasawuf biasa disebut sebagai penghalang lajunya jiwa menuju Khaliknya. Penghalang itu adalah dosa-dosa yang setiap hari kita lakukan. Dosa merupakan kabut yang menutupi mata hati, sehingga hati tidak mampu melihat kebenaran yang datang dari Allah. Nur Allah tidak bisa ditangkap dengan pasti. Dengan demikian manusia akan selalu berada dalam keragu-raguan atau was-was. Didalam bab ini saya tidak membahas masalah dosa seperti apa yang saya sebut diatas. Karena ketertutupan atau terhijabnya kita atas keberadaan Allah disebabkan ketidak tahuan (kebodohan) dan sangkaan (dzan) akan Allah yang keliru. Maka dari itu saya hanya ingin membuka wawasan  dalam hal ketidak tahuan kita akan Allah, yaitu jawaban-jawaban Allah atas pertanyan kita selama ini

Seperti yang pernah saya katakan pada artikel bab hati, bahwa hati merupakan pusat dari segala kemunafikan, kemusyrikan, dan merupakan pusat dari apa yang membuat seorang manusia menjadi manusiawi. Dan pusat ini merupakan tempat dimana mereka bertemu dengan Tuhannya. Merupakan janji Allah saat fitrah manusia menanyakan dimanakah Allah? Allah menyebutkan diri-Nya berada “sangat dekat”, sebagaimana tercantum dalam Alqur’an .

“Dan apabila hamba-hamba–Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran “ ( Albaqarah: 186)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya (Al Qaaf:16)

Pertanyaan tentang keberadaan Allah sering kali kita mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan, bahkan kita mendapatkan cemoohan sebagai orang yang terlalu mengada-ada. Menanyakan keberadaan “tuhanku” adalah merupakan pertanyaan fitrah seluruh manusia.  Allahpun mengetahui akan hal ini, sehingga Allah  memberikan jawaban atas pertanyaan hamba-hamba-Nya melalui rasulullah.

Didalam ayat-ayat diatas, mengungkapkan keberadaan Allah sebagai “wujud” yang sangat dekat. Dan kita diajak untuk memahami pernyataan tersebut secara utuh. Maka dari itu jawaban atas pertanyaan “dimanakah Allah?”. Alquran mengungkapkan jawaban secara dimensional. Jawaban-jawaban tersebut tidak sebatas itu, akan tetapi dilihat dari seluruh sisi pandangan manusia seutuhnya. Saat pertanyaan itu terlontar “dimanakah Allah “, Allah menjawab “….Aku ini dekat ", kemudian jawaban meningkat sampai kepada  “Aku lebih dekat dari urat leher kalian…atau dimana saja kalian menghadap disitu wujud wajah-Ku ….dan Aku ini maha meliputi segala sesuatu."

Keempat jawaban tersebut menunjukkan bahwa Allah tidak bisa dilihat hanya dari  satu dimensi saja, akan tetapi Allah merupakan kesempurnaan wujud-Nya, misalnya didalam firman Allah :

“Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keragu-raguan tentang pertemuan dengan tuhan mereka. ingatlah bahwa sesungguhnya Dia maha meliputi segala sesuatu. ( Al Fushilat :54)

“Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah maha luas lagi maha mengetahui" (Al baqarah: 115)

Sangat jelas sekali bahwa Allah menyebut dirinya “Aku” berada meliputi segala sesuatu,  dilanjutkan surat Albaqarah : 115 ... dimana saja engkau menghadap disitu wajah-Ku berada ! Kalau kita perhatikan jawaban Allah, begitu lugas dan tidak merahasiakan sama sekali akan wujud-Nya.

Namun demikian Allah mengingatkan kepada kita bahwa untuk memahami atas ilmu Allah ini tidak semudah yang kita kira. Karena kesederhanaan Allah ini sudah dirusak oleh anggapan bahwa Allah sangat jauh. Dan kita hanya bisa membicarakan Allah nanti di alam syurga. Untuk mengembalikan dzan kita kepada pemahaman seperti yang diungkap oleh Alquran tadi, kita hendaknya memperhatikan peringatan Allah, bahwa Allah tidak bisa ditasybihkan (diserupakan)  dengan makhluq-Nya.

Didalam kitab tafsir Jalalain ataupun didalam tafsir fi dzilalil qur’an, membahas masalah surat Al fushilat : 54, … Allah meliputi segala sesuatu … adalah ilmu atau kekuasaan-Nya yang meliputi segala sesuatu, bukan dzat –nya.

Pendapat ini merupakan tafsiran ulama, untuk mencoba menghindari kemungkinan masyarakat awam mentasybihkan (menyerupakan) wujud Allah dengan apa yang terlintas didalam fikirannya ataupun perasaannya. Sehingga “ Allah” sebagai wujud sejati  ditafsirkan dengan sifat-sifat-Nya yang meliputi segala sesuatu. Untuk itu, saya huznudzan memahami pemikiran para mufassirin sebagai pendekatan ilmu dan membatasi pemikiran para awam.

Akan tetapi kalau “Allah” ditafsirkan dengan sifat-sifat-Nya, yang meliputi segala sesuatu. Akan timbul pertanyaan, kepada apanya kita menyembah? Apakah kepada ilmunya, kepada kekuasaan-Nya atau kepada wujud-Nya? Kalau dijawab dengan kekuasan-Nya atau dengan ilmu-Nya maka akan bertentangan dengan firman Allah :

"Sesungguhnya Aku ini Allah , tidak ada tuhan kecuali “Aku” , maka, sembahlah “Aku”
(At  Thoha : 14)

Ayat ini menyebutkan “pribadinya” atau dzat Allah, kalimat … sembahlah “Aku”. Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan menghadapkan wajahnya kepada wajah Dzat yang maha mutlak. Sekaligus menghapus pernyataan selama ini yang justru menjauhkan “pengetahuan kita “ tentang dzat, kita menjadi takut kalau membicarakan dzat, padahal kita akan menuju kepada pribadi Allah, bukan nama, bukan sifat dan bukan perbuatan Allah. Kita akan bersimpuh dihadapan sosok-Nya yang sangat dekat.

Ungkapan tentang tuhan, juga disebut sebagai dalil pertama yang menyinggung hubungan antara dzat, sifat, dan af’al (perbuatan) Allah. Diterangkan bahwa dzat meliputi sifat … sifat menyertai nama … nama menandai af’al. Hubungan–hubungan ini bisa diumpamakan seperti madu dengan rasa manisnya, pasti tidak dapat dipisahkan. Sifat menyertai nama, ibarat matahari dengan sinarnya, pasti tidak bisa dipisahkan. Nama menandai perbuatan, seumpama cermin, orang yang bercermin dengan bayangannya, pasti segala tingkah laku yang bercermin, bayangannya pasti mengikutinya. Perbuatan menjadi wahana dzat, seperti samudra dengan ombaknya, keadaan ombak pasti mengikuti perintah samudra.

Uraian diatas menjelaskan, betapa eratnya hubungan antara dzat, sifat, asma, dan af’al tuhan. Hubungan antara dzat, dan sifat ditamsilkan laksana hubungan antara madu dan rasa manisnya. Meskipun pengertian sifat bisa dibedakan dengan dzat..namun keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Kalimat …. Allah meliputi segala sesuatu (Al fushilat 54)  adalah kesempurnaan ..dzat , sifat, asma, dan af’al. Sebab kalau hanya desebut sifatnya saja yang meliputi segala sesuatu, lantas ada pertanyan, “sifat” itu bergantung kepada apa atau siapa ? Jelas akan bergantung kepada peribadi (Aku) yang memiliki sifat.   Kemudian kalau sifat yang meliputi segala sesuatu , kepada siapakah kita menghadap? Kepada Dzat atau sifat Allah. Kalau sifat Allah sebagai objek ibadah kita, maka kita telah tersesat, sebab sifat,  asma dan perbuatan Allah bukanlah sosok dzat yang maha mutlak itu sendiri.

Semua selain Allah adalah hudust (baru),.karena “adanya” sebagai akibat adanya sang Dzat. seperti adanya alam, adanya malaikat, adanya jin dan manusia. Semua ada karena adanya dzat yang maha qadim. Seperti perumpamaan madu dan manisnya, sifat manis tidak akan ada kalau madu itu tidak ada. Dan sifat manis itu bukanlah madu. Sebaliknya madu bukanlah sifat manis. Artinya sifat manis tergantung kepada adanya “ madu”.
Apakah Dzat itu, … seperti apa ?
Apakah ada orang yang mampu menjabarkan keadaannya.

Singkat kata, dualitas berkaitan dengan sifat diskursus manusia tentang tuhan. Untuk bisa memahami tuhan, kita harus mengerti keterbatasan-keterbatasan konsepsi kita sendiri, karena menurut perspektif ketakperbandingan tak ada yang bisa mengenal Allah kecuali Allah sendiri! Karena itu kita punya pengertian tentang tuhan, “tuhan konsepsi saya dan tuhan konsepsi hakiki, yang berada jauh diluar konsepsi saya“. Tuhan yang dibicarakan berkaitan dengan “konsepsi saya”.  Konsepsi Dzat yang hakiki tidak bisa kita fahami, baik oleh saya maupun anda. Karena itu kita tidak bisa berbicara tentangnya secara bermakna. bagaimna kita bisa memahami tentang Dia, sedang kata-kata yang ada hanya melemparkan kita keluar dari seluruh konsepsi manusia. Seperti, Al awwalu wal akhiru (Dia yang Awal dan yang akhir), Dia yang tampak dan yang tersembunyi ( Al dhahiru wal bathinu), cahaya-Nya tidak di timur dan tidak di barat (la syarkiya wa la gharbiya), tidak laki-laki dan tidak tidak perempuan, tidak serupa dengan ciptaan-Nya dst….

Kenyataan tuhan tidak bisa dikenal dan diketahui berasal dari penegasan dasar tauhid ‘laa ilaha illallah atau laisa ka mistlihi syai’un' (tidak sama dengan sesuatu). Karena tuhan secara mutlak dan tak terbatas benar-benar dzat maha tinggi, sementara kosmos berikut segala isinya hanya secara relatif bersifat hakiki, maka realitas ilahy berada jauh diluar pemahaman realitas makhluq. Dzat yang maha mutlak tidak bisa di jangkau oleh yang relatif.

Kita dan kosmos (alam) berhubungan dengan tuhan melalui sifat-sifat ilahy yang menampakkan jejak-jejak  dan tanda-tanda nya dalam eksistensi kosmos. Kita tidak bisa mengenal dan mengetahui tuhan dalam dirinya sendiri, tetapi hanya sejauh tuhan mengungkapkan diri-Nya melalui kosmos (sifat, nama, af’al)
Firman Allah:

“Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Dia mempunyai nama-nama yang yang indah “( Thoha :8)

Sifat, nama, dan af’al, secara relatif bisa dirasakan dan difahami “maknanya”. Akan tetapi “Dzat”, adalah realitas mutlak. Dan untuk memahami secara hakiki harus mampu memfanakan diri, ... yaitu memahami keberadaan makhluq adalah tiada….

Untuk lebih jelasnya akan saya berikan perumpamaan keberadaan alam dan yang menciptakan…..
Ketika kita melihat kereta api berjalan diatas rel, terbetik dibenak kita  suatu pertanyaan. Bagaimana roda-roda yang berat itu bisa bergerak dan lari. Tak lama kemudian kita akan sampai kepada pemikiran tetang alat-alat dan mesin-mesin itulah yang menggerakkan roda yang berat itu.  Adakah setelah itu kita dibenarkan jika berpendapat bahwa alat kereta itu sendiri yang menggerakkan kereta tersebut. Perkaranya tidak semudah itu, sebab kita tidak boleh mengabaikan bahwa disana ada masinis yang mengendalikan mesin.  Kemudian ada insinyur yang menciptakan rancangan dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan,  maka pada hakekatnya tak ada wujud bagi kereta itu, dan tidaklah mungkin terjadi gerakan dan perputaran pada roda-roda tanpa kerja insinyur. Mesin-mesin itu bukanlah akhir dari cerita sebuah kereta api, akan tetapi hakikat yang paling akhir adalah “akal” yang telah mengadakan mesin itu,kemudian menggerakkan menurut rencana yang telah dipersiapkan.

Mengikuti ilustrasi realitas kereta api, mulai dari gerbong yang digerakkan oleh roda-roda, kemudian roda-roda digerakkan oleh mesin, mesin digerakkan oleh masinis, dan semua itu direncanakan ,oleh yang menciptakan yaitu insinyur.  Pertanyaan terakhir adalah …
Mungkinkah roda-roda, mesin, dan alat-alat kereta api itu mampu melihat yang menciptakan?  Jawabannya adalah insinyur itu sendiri yang mengetahui akan dirinya, sebab kereta api dan insinyur berbeda keadaan dan bukan perbandingan….

Realitas instrumen kereta api tidak ada satupun yang serupa jika dibandingkan dengan keadaan realitas insinyur. Kemudian mengetahui keadaan realitas kereta api dari awal sampai akhir, merupakan kefanaan atau penafian bahwa realitas kereta api adalah ciptaan semata.
Firman Allah :

"(yang memiliki sifat-sifat yang..) Demikian itu ialah tuhan kamu. Tidak ada tuhan selain Dia. pencipta segala sesuatu maka sembahlah Dia, dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu.  Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan. Dan Dialah yang maha halus lagi maha mengetahui" ( Qs : 102-103)

Realitas bahwa Dzat tuhan tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu ( Assyura: 11) ... berlaku sampai diakhirat kelak. Walaupun tuhan sendiri mengatakan bahwa manusia di alam syurga akan melihat realitas Tuhan secara nyata atas eksistensi Allah, bukan berarti kita melihat dengan perbandingan pikiran manusia … yang dimaksud melihat secara hak disini adalah kesadaran jiwa muthmainnah yang telah lepas dari ikatan alam atau kosmos.

Atau biasa disebut “fana”, keadaan ini manusia dan alam seperti keadaan sebelum diciptakan yaitu keadaan masih kosong 'awang uwung' (jawa), kecuali Allah sendiri yang ada. Tidak ada yang mengetahui keadaan ini kecuali Allah sendiri.

Keadaan awal ( Al Awwalu) tidak ada yang wujud selain Allah, tidak ada ruang, tidak ada waktu, tidak ada alam apapun yang tercipta. Untuk mengetahui keadaan seperti ini marilah kita ikuti kisah nabi Musa As.  Firman Allah :

“Dan tatkala Musa datang (untuk munajat) dengan Kami, pada waktu yang telah Kami tentukan dan tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya. Berkatalah Musa : ya tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku. Agar aku dapat melihat kepada Engkau. Tuhan berfirman: kamu sekali-sekali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihat-lah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagaimana sedia kala) niscaya kamu dapa melihat-Ku. Tatkala tuhannya nampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan, maka setelah Musa sadar kembali dia berkata. Maha suci Engkau, dan aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman …" (Qs :7: 143 )

Ada yang menarik dalam peristiwa “pertemuan” nabi Musa ... dan saya hubungkan dengan pembahasan mengenai keadaan “kefanaan” manusia dan alam. Yakni keadaan hancur luluh lantak keadaan gunung Thursina dan keadaan Musa jatuh pingsan! Setelah gunung itu hancur dan Musa - pun jatuh pingsan, tidak satupun yang terlintas realitas apapun didalam perasan Musa dan fikirannya, kecuali ia tidak tahu apa-apa. Yaitu realitas konsepsi manusia dan alam tidak ada (fana). Keadaan inilah Musa melihat Tuhan, bahwa benar Tuhan tidak bisa dibandingkan oleh sesuatu apapun. Kemudian Musa kembali sadar memasuki realitas dirinya sebagai manusia dan alam. Musa berkata :aku orang yang pertama-tama beriman..dan percaya bahwa Allah tidak seperti konsepsi “saya”.

Setelah kita mengetahui dan faham akan Dzat, sifat, dan af’al Allah, teranglah fikiran dan bathin kita, sehingga secara gamblang kedudukan kita dan Allah menjadi jelas, yaitu yang hakiki dan yang bukan hakiki. Terbukalah mata kita dari ketidak tahuan akan Dzat. Ketidak tahuan inilah yang saya maksudkan dengan tertutupnya hijab, sehingga perlu disadarkan oleh kita sendiri dan kemudian mengenal-Nya (makrifat)

Syekh Ahmad bin ‘Athaillah, didalam Al hikam menyebutkan bahwa :
"Tiada sesuatu benda yang menghijab engkau dari Allah, tetapi yang menghijab engkau adalah persangkaanmu adanya sesuatu disamping Allah, sebab segala sesuatu selain dari Allah itu pada hakikatnya tidak maujud (tidak ada) sebab yang wajib ada hanya Allah, sedang yang lainnya terserah kepada belas kasihan Allah untuk diadakan atau di tiadakan".

Seorang arif berkata : "Adanya makhluq semua ini bagaikan adanya bayangan pohon di dalam air. Maka ia tidak akan menhalangi jalannya perahu. Maka hakikat yang sebenarnya tiada sesuatu benda apapun yang maujud disamping Allah untuk menghijab engkau dari Allah. Hanya engkau sendiri mengira bayangan itu sebagai sesuatu yang maujud."

Ibarat seseorang yang bermalam disuatu tempat, tiba-tiba pada malam hari ketika ia akan buang air, terdengar suara angin yang menderu masuk lobang sehingga persis sama dengan suara harimau, maka ia tidak berani keluar. Tiba pada pagi hari ia tidak melihat bekas–bekas harimau, maka ia tahu bahwa itu hanya tekanan angin yang masuk ke lobang, bukan  tertahan oleh harimau, hanya karena perkiraan adanya harimau.

Sang syekhk berkata : "andaikan Allah tidak dhahir pada benda-benda alam ini, tidak mungkin adanya penglihatan pada-Nya. Dan andaikan Allah tidak mendhahirkan sifat-sifat-Nya, pasti lenyaplah alam benda-benda. Ketika Allah bertajalli kepada gunung, hancurlah gunung itu, sedang Musa jatuh pingsan … "

Pertanyaan demi pertanyaan timbul dari ketidaktahuan (hijab), kenyataaan bahwa Allah sangat dekat … tertutup oleh kebodohan ilmu kita selama ini. Allah seakan jauh diluar sana …sehingga kita tidak merasakan kehadiran-Nya yang terus menerus berada dalam kehidupan kita. Dari keterangan diatas menyimpulkan bahwa kita ternyata telah salah kaprah mengartikan sosok dzat selama ini, yang kita sangka adalah  konsepsi “saya”, bukan konsepsi hakiki, yaitu wujud yang tak terbandingkan oleh perasaan, pikiran , mata hati, dan seterusnya. Allah kita adalah Allahnya  Musa, ... Allahnya Ibrahim, ... dan Allahnya Muhammad … yaitu yang Maha tak terjangkau oleh apapun…

Kini saatnya kita bertakbir teruju kepada dzat …bukan kepada sifat ….(fa’ bud nii ) sembahlah AKU…

Tafakkur dan meditasi transendental

Setelah kita mengetahui dan mengenal Allah secara ilmu, maka semakin mudahlah kita untuk memulai berkomunikasi dan berjalan menuju kepada-Nya. Kita telah meyakini bahwa kita akan kembali kepada-nya  sekarang ... bukan besok !
Firman Allah :
Al insyiqa: 6

“ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keragu-raguan tentang pertemuan dengan tuhan mereka. Ingatlah bahwa Allah maha meliputi segala sesuatu". (Alfushilat : 54).

Didalam ayat lain dikatakan, bahwa shalat itu adalah pekerjaan yang amat sulit, kecuali bagi orang yang khusyu’. Siapakah orang yang khusyu’ itu, ialah orang yang mempunyai sangkaan bahwa ia akan bertemu dengan  Allah dan mereka adalah orang yang kembali kepada Allah. Rajiun artinya; orang yang kembali (kedudukannya sebagai fa’il), bukan yang akan kembali.

Kekhusyu’an shalat dan ibadah-ibadah yang lainnya tidak akan bisa dicapai, kalau kita tidak mengerti ilmu tauhid, yaitu mengerti akan Allah secara hakiki. Dasar tauhid inilah yang menjadi bekal kita untuk menuju tawajjuh kepada Allah, dan merupakan jalan yang membedakan dari peribadatan-peribadatan agama lain selain islam.

Pada tatanan fenomena fisik dan psikis, mungkin kita akan mengalami kesamaan dengan perjalanan meditator … penyembuh, pastor, atau pendeta … biksu  yang tekun beribadah … atau kadang juga sama dengan penggali spiritual yang tidak menggunakan pengertian ketuhanan sama sekali …

Pengalaman-pengalaman ini bukanlah penentu sebuah kebenaran spiritual tertentu.  Akan tetapi hal ini, seperti keadaan ilmu-ilmu yang lainnya yang bersifat universal….    seperti perasaan rindu …cinta …sedih…bahagia dan ketenangan. Keadaan ini bisa disebut sebagian dari pengalaman perasaan rohani. Yang tidak bisa kita klaim sebagai milik orang islam saja..atau orang  kristen ... dan yang lain.

Banyak pendeta yang berdoa di gereja memohon kesembuhan bagi si penderita sakit parah ... ia bisa sembuh …pendeta budha pun demikian ... dan tidak sedikit pula dari kalangan islam yang bukan kyai bisa berdoa untuk yang sakit,  ... iapun bisa sembuh.

Dari sudut pandang psikolgi modern, tafakkur termasuk bagian dari psikologi berfikir. Lapangan sentral kajian psikologi tradisional pada masa-masa sebelum aliran behaviorisme mendominasi psikologi. Pada masa-masa awal, psikologi banyak terfokuskan pada studi sekitar pikiran, kandungan perasaan, dan bangunan akal manusia. Pembahasan masalah belajar hanya dikaji melalui tema-tema tersebut , kemudian muncul aliran behaviorisme dengan konsep-konsepnya yang terkenal. Aliran ini, akhirnya mengubah secara besar-besaran pandangan-pandangan sebelumnya, kemudian menempatkan kajian mengenai proses belajar manusia, melalui rangsangan dan respon yang timbul, menjadi tema utama psikologi. Perasaan, kandungan akal, dan pikiran dianggap sebagai masalah yang tidak dapat dijangkau dan dipelajari secara langsung, sebagaimana juga metode yang dipakai untuk mempelajarinya, seperti  metode instropeksi, dikritik karena tidak dapat dibuktikan secara empiris. Para penganut behaviorisme menginginkan psikologi sebagai ilmu empiris berdasarkan fenomena-fenomena lahiriah yang dapat dikaji dilaboratorium. Menurut mereka, segala kegiatan kognitif dan perasaan yang ada dan terjadi dalam benda-benda hidup merupakan akibat dari interaksinya dengan pengaruh-pengaruh tertentu.

Kegiatan-kegiatan “pikiran dalam” itu, mereka anggap sebagai suatu peti terkunci yang bagian dalamnya tidak mungkin diketahui dengan jelas. Karena itu, tidak perlu menghabiskan waktu untuk mempelajarinya. Adapun berbagai respon dan tanggapan yang timbul akibat kegiatan dalam yang dapat diukur dan diamati, merupakan pusat perhatian kajian ilmiah empiris mereka.

Hal yang lebih pelik dan kompleks bagi kita, orang islam, adalah bahwa salah satu unsur pembentukan perilaku manusia terpenting telah ditinggalkan oleh psikologi barat modern, meskipun banyak penemuan modern telah membuktikan pentingnya unsur tersebut, yaitu unsur spiritual. Psikologi modern hanya berpegang pada unsur psikologis, biologis sosial dan kultural sebagai unsur-unsur pembentukan perilaku manusia, dengan alasan, mudah didefinisikan jika dibandingkan dengan sisi spiritual. Selain itu, ia juga menolak segi spiritual karena dianggap tumbuh dari pandangan agama.

Sebagian kalangan islam juga menolak pentingnya tafakkur, yang merupakan unsur penting dari suatu agama disamping tatanan hukum syariat. Mereka menganggap perbuatann itu adalah bid’ah.

Awal dari segala perbuatan adalah kegiatan berfikir dan kognitif dialam sadar. Berdasarkan hal itu, orang selalu berfikir panjang dan mendalam atau bertafakur akan dengan mudah melaksanakan segala ibadah dan ketaatan lainnya. Dalam hal ini  Al Ghazly dalam Ihya’nya mengatakan: "Jika ilmu sudah sampai dihati, keadaan hati akan berubah, jika hati sudah berubah, perilaku anggota badan akan berubah. Perbuatan mengikuti keadaan (hal), keadaan mengikuti ilmu, dan ilmu mengikuti pikiran, oleh karena itu pikiran adalah awal dan kunci segala kebaikan, dan yang menyingkapkan keutamaan tafakkur. Pikiran lebih baik daripada dzikir, karena pikiran adalah dzikir plus". (Abu Hamid Al Ghazaly, Ihya’ ulumuddin jilid IV hal. 389)

Sebagaimana kegiatan berfikir adalah kunci kebaikan dan amal shaleh, ia juga merupakan segala perbuatan lahir dan bathin. Oleh karena itu, hati yang selalu merenung atau bertafakkur tentang ketinggian dan keagungan Allah Swt, serta memikirkan kehidupan akhirat, akan dapat membongkar dengan mudah niat-niat jahat yang terlintas dalam benaknya. Karena, ia memiliki kepekaan dan ketajaman sebagai hasil dzikir dan tafakkurnya yang berkesinambungan itu. Setiap kali terlintas suatu niat jahat atau buruk kedalam hati, maka pikiran, perasaan dan pandangan baiknya dapat segera mengetahui dan menguasainya, lalu menghancurkan keberadaannya. Seperti anggota badan yang sehat dapat menolak dan menghancurkan penyakit yang mencoba menghinggapinya.

Seorang yang alim yang menyambung malam dan siang dengan tafakkur tentang keagungan Allah, tentang kehidupan dunia dan akhirat adalah seorang yang terjaga. Manakala terlintas sedikit saja niat jelek yang mencoba menghampirinya, api kebaikan akan menghantamnya atau membakarnya, seperti lemparan api yang menjaga langit dari intaian syetan yang hendak mencuri pendengaran; “sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari syetan, mereka mengingat Allah. maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (Qs:7:201)

Jadi, tafakkur memanfaaatkan segala fasilitas pengetahuan yang digunakan manusia dalam proses berfikir. Tafakkur adalah menerawang jauh dan menerobos alam dunia kedalam alam akhirat, dari alam ciptaan menuju kepada pencipta. Loncatan inilah yang disebut al ibrah, melihat jauh  sarat pengetahuan.

Berfikir kadang hanya terbatas, pada upaya memecahkan masalah-masalah kehidupan dunia, yang mungkin terlepas dari emosi kejiwaan, sedang tafakur dapat menerobos sempitnya dunia ini menuju alam akhirat yang luas, keluar dari belenggu materi menuju alam spiritual yang tiada batas. Mungkin hal ini yang dimaksudkan oleh psikolog sebagai kecerdasan jiwa yang hebat.

Tafakkur dapat menggerakkan semua kegiatan kognitif serta pikiran dalam dan luar seorang mukmin. Dr. Malik Badri, ahli psikoterapi dari Sudan berpendapat, perwujudan tafakkur memiliki dan melalui tiga fase dan berakhir pada fase keempat, yang disebut istilah “syuhud”. Diawali dengan pengetahuan yang didapat dari persepsi empiris yang langsung. Melalui alat pendengaran, alat raba, atau alat indra lainnya. Atau dengan tidak langsung, seperti pada fenomena imajinasi, atau kadang pengetahuan rasional yang abstrak. Sebagian besar pengetahuan ini tidak ada hubungannya dengan emosi atau sentimen.

Kalau seseorang memperdalam cara melihat dan mengamati sisi keindahan, kekuatan, keistimewaan lainnya yang dimiliki sesuatu, berarti ia telah berpindah dari pengetahuan dingin menuju rasa kekaguman akan keagungan ciptaan, susunannya rapi, peman-dangannya yang indah. Fase ini adalah fase kedua, fase tempat bergejolaknya perasaan. Kalau dengan perasaan ini ia berpindah menuju sang pencipta dengan penuh kekhusyu'an sehingga dapat merasakan kehadiran Allah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, berarti ia sudah berada pada fase ketiga. Sekadar dapat memandang dan menyaksikan ciptaan-Nya tidak lebih dari fase awal yang primitif, pada fase ini antara pandangan seorang mukmin dan orang kafir tidak ada bedanya. Fase kedua, yaitu fase tadhawwuk, pengungkapan rasa kekaguman terhadap ciptaan atau susunan alam yang indah, fase ini dapat dirasakan, baik oleh orang mukmin maupun oleh orang kafir, tanpa mellihat sisi keimanan.atau sisi kekufuran. Akan tetapi, pada fase pengetahuan ketiga yang menghu-bungkan antara perasaan akan keindahan ciptaan dan kerapian tatanan alam dengan penciptanya yang maha agung dan maha tinggi, merupakan nikmat besar yang hanya dapat dirasakan oleh orang mukmin.

Fase-fase tersebut merupakan perjalanan yang akan dialami oleh  setiap orang yang melakukan tafakkur. Pada fase-fase ini adakalanya orang hanya sampai kepada keadaan primitip yaitu fenomena alam, baik yang kasat mata maupun yang abstrak (ghaib), yang oleh orang tertentu dimanfaatkan untuk melihat (kasyaf), yang lebih halus, pengobatan, dan kekuatan yang luar biasa.

Sarana-sarana tafakkur.

Didalam fenomena meditasi transendental pemusatan fikiran dengan mengulang-mengulang suatu gambaran pikiran tertentu atau makna suatu keyakinan (dzikir, mantra) memiliki nilai besar bagi orang yang melakukannya. Hal ini akan menghantarkannya pada angan-angan atau gambaran yang sangat dalam dan pada konsep-konsep baru tentang sesuatu objek pikir atau meditasi, lalu naik pada tingkatan bayangan dan gambatran yang paling dan sulit didapat dalam kehidupan rutin yang terbatas. Oleh karena itu pengalaman ini disebut meditasi transendental.

Pada mulanya tafakkur, meditasi transendental berlaku universal, pengalaman-pengalaman serta pengaruh yang dirasakanannya sama, apakah itu metode yang yang digagas oleh hindu, budha, kristen dan islam. Diantaranya yang dilakukan dalam meditasi ialah, pengosongan pikiran dan melupakan segala keruwetan dalam benak yang dapat mengganggu proses meditasi dan konsentrasi pada objek meditasi. Ia harus kembali mengonsentrasikan pikiran pada “apa” yang ia pilih sebagai objek pikiran dan meditasinya. Ia harus mengambil posisi duduk pasip yang rileks. Latihan ini harus selalu diulang-ulang, sehingga hari demi hari meditasi dan berfikirnya menjadi lebih dalam, badan terasa lebih ringan, fikiran menjadi bersih, jiwa menjadi sangat luas tak terbatas. Bersamaan dengan itu, hilang pula segala perasaan gelisah ,sedih, galau, dan segala gangguan jasmani yang dirasakan sebelumnya.

Seoran mukmin akan mudah menemukan cara meditasi semacam ini, karena metode ini memiliki kesamaan yang jelas dengan proses tafakkur tenntang penciptaan  langit dan bumi yang disertai dzikir dan bertasbih kepada objek yang maha tak terjangkau yaitu Allah, baik berdiri, duduk rileks, berbaring. Kesamaannya terletak pada upaya pengkonsentrasian pikiran pada objek tertentu, ada yang menggunakan patung, irama musik, roh suci, mantra-mantra suci, dan membayangkan wujud syekh atau guru pembimbing spiritual. tujuannya adalah upaya melepaskan atau menjauhkan dari pengaruh yang menggangu konsentrasi, keruwetan angan-angan fikiran, perasaan, ataupun kebisingan dan keramaian.

Keduanya juga sejalan dalam hal latihan,proses melihat dan mengulang kata-kata (dzikir), atau makna objek meditasi. Oleh karena, itu seseorang yang bertafakkur bertasbih, dan bermeditasi dapat menangkap makna dan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak terlintas dalam hati.  Keduanya mengunakan kedalaman tafakkur untuk membersihkan pengetahuan lahiriah dari belenggu penjara rutinitas kehidupan material menuju kebebasan menatap lepas keatas, menuju pengetahuan yang luas tak terbatas.

Ada beberapa jalan yang digunakan orang untuk melakukan meditasi yaitu menatap dengan pikiran kepada suatu objek yang diyakininya. Serta sensasi yang mempengaruhi terhadap perilakunya. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Eckankar, didapatkan suatu sensasi yang terjadi pada pelaku meditator, dari seluruh aliran spiritual yang ada didunia. Eckankar menamainya kalam semesta ilahy.

Ada jenis tahapan, serta kata-kata yang dijadikan sarana untuk tafakkur, jenis pengelompokan, suasana dirasakan didalam spiritual, serta penjelasan dan manfaatnya.

TABEL ECKANKAR ....

JENIS TAHAPAN

KATA 2
JENIS PENGELOMPOKAN

SUASANA

PENJELASAN

Diatas 12 tahapan adalah WUJUD SEJATI YANG MELIPUTI ALAM SEMESTA

12. SUGMAD
TANPA
KATA
SUGMAD KEHIDUPAN SEJATI
KALAM ILAHI

Lautan cinta dan kasih sayang
11. ALAM SUGMAD
TANPA KATA
SUGMAD LOK
SUARA UNIVERSAL
Diatas the SUGMAD adalah banyak tahapan yang belum terwujud
10. ANAMI LOK
HU
ANAMI LOK
SUARA PUSARAN AIR
Tahapan tak dikenal.. Bahasa manusia alam baka. Kita dapat bersuara keras dengan itu
9. AGAMI LOK
HUK
AGAM LOK
SUARA DESIRAN BAMBU
Tahapa yang tidak dapat dimasuki. Sedikit yang mampu masuk ke dalamya. Tak ada kata yang dapat melukiskannya
8. HUKIKAT LOK
ALUK
HUKIKAT LOK
RIBUAN SUARA BIOLA
Tempat tertinggi. Pencapaian jiwa pada umumnya. Jiwa berdiam diri disini sampai tahap tertentu
7. ALAYA LOK
HUM
ALAYA LOK
SUARA GETARAN MOBIL
Alam tanpa batas. Sach khand. Kekekalan mulai tampak dan disini kata-kata (sudah) tak dikenal
6. ALAKH LOK
SHANTI
ALAKH LOK
DERU BADAI
Tahapan yang tak terlihat. Jiwa menemukan kedamaian dan kebahagiaan - - dan (sudah) tidak terikat pada (mampu lepas dari) kehidupam

GARIS PEMBATAS ALAM FISIK DAN SPIRITUAL


 
5. JIWA
SUGMAD
SAT NAM
SUARA SERULING
Tahapan  pembatas. Kenyataan pertama sugmad – spiritual yang bersih, kehidupan yang suci – Kenyataan diri


ETHERIC
PUNCAK KEJIWAAN
BAJU
SAGUNA 2 BRAHM
INTUISI
DENGUNG LEBAH
Bawah sadar. Perangkat dari budaya primitif
4. MENTAL
MANA
BRAHMANDA BRAHM
PIKIRAN
ALIRAN AIR
JEHOVAH. Perangkat filsafat, etika, ajaran moral, estetika, kekuatan pikiran universal Religi Ketuhanan
3. SEBAB AKIBAT
ALUM
MAHA-KAL-PRA-BRAHM
INGATAN
DENTANG LONCENG
Kal Niranjan, Hukum berada diatas kenyataan buruk, mempengaruhi semua yang berada dibawahnya
2. ASTRAL PERBINTANGAN)
KALA
SAT KANWAL-ANDA
EMOSI
DEBUR OMBAK  DI LAUT
Tikya pad. Perangkat dari semua fenomena fisik, piring terbang, spirit, dll. Pencapaian tertinggi melalui perkiraan bintang-bintang dan pengetahuan ghaib.
1. FISIK
ALAYI
SOLA
ELAM
RASA
SUARA YANG BERGEMURUH
Pinda. Kenyataan ilusi, maya, ilmu pengetahuan, kehidupan keseharian, tahapan materi. Energi, tempa, waktu. Jiwa terjebak oleh keinginan oleh lima keinginan besar ; birahi, amarah, serakah, kebendaaan dan kesombongan


Eckankar membawa kesadaran kita menuju alam spiritual dan batasan-batasan yang dicapai oleh para meditator. Betapa ia sangat teliti dan hati-hati dalam mengungkapkan “keadaan” atau suasana yang dialami oleh spiritualis, pengelompokan dan tahapan-tahapan agar menjadi “catatan” bagi para pemula didalam menjalani “laku spiritual”, terutama objek apa yang digunakan dalam menghantarkan jiwa kembali kepada eksistensi diri sejati.

Islam menempatkan “Allah” sebagai objek yang tak terbandingkan merupakan sarana membebaskan jiwa dari ikatan dan pengaruh alam yang dilaluinya, sehingga jiwa yang terlepas dari alam, mustahil syetan dan jin mampu menembus alam jiwa yang bebas (ikhlas).
Firman Allah :

"Iblis menjawab: demi kekuasaan Engkau ,aku akan menyesatkan mereka semua. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka" (Qs: 38: 82-83 )

Pada alam inilah “jiwa “ mencapai puncak kesempurnaan spiritual tertinggi, dan Allahpun memanggilnya kembali kesisi-Nya.

"Wahai jiwa yang tenang ( yang tidak terikat oleh syahwatnya)…"
"Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan rela dan meridhai "
"Dan masuklah kamu kedalam syurga-Ku" ( Qs:          )

Pada tahapan ini Eckankar tidak  mengungkapkan lebih lanjut keberadaan jiwa sejati, ia hanya mengatakan“ diatas the sugmad adalah masih banyak tahapan yang belum terwujud”.

Pada tahapan kesepuluh “Anami lok”, dan kata-kata yang digunakan sebagai objek spiritual adalah “HU” ( Hua), (dari konsep laa ilaha illa hua ... tiada tuhan kecuali Dia) dia yang tak terbandingkan oleh sesuatu. Suatu konsep qur’ani yang membedakan dari jalan spiritual manapun dan akan terhindar dari jebakan kebisingan intuisi alam materi, yang banyak dipenuhi 'anak-anak syetan’ yang menempati setiap ruang angkasa spiritual. 

Dilanjutkan kepada tahapan sebelas “alam sugmad” dan tahapan duabelas “sugmad” yaitu tidak ada lagi kata-kata yang digunakan (sir). yaitu keadaan samudra cinta dan kalam ilahy yang mengalir kepada jiwa muthmainnah (jiwa yang telah terbebas dari ikatan segala macam alam).

Kemenangan perjuangan Rasulullah menghadapi tantangan dan gangguan syetan  saat beliau pergi mikraj dengan kekuatan jiwa muthmainnah
Sabda nabi:

"Orang yang gagah berani bukanlah orang yang dapat menyerbu musuhnya dengan tangkas dalam pertempuran, akan tetapi orang yang gagah berani itu sebenarnya yang kuasa dan mampu menahan hawa nafsunya" (al hadist )

"Kalaulah syetan-syetan itu tidak berkerumun di hati Bani Adam, niscaya mereka dapat memandang ke alam ghaib (abstrak)" (Hr Ahmad dari abu Hurairah)

Pada tahapan tertinggi (Al A’raaf), kita akan mampu melihat fenomena-fenomena alam dibawah, seperti intuisi yang ditimbulkan oleh halusinasi, fikiran, perasaan, dan getaran gelombang–gelombang pendek, yang dihembuskan syetan dan jin. Sebab jiwa telah melampaui tahapan-tahapan dari ikatan seluruh alam semesta menjulang menuju yang bukan alam, yaitu Dzat yang maha mutlak.
Firman Allah :

“Sesungguhnya orang-orang yag bertaqwa apabila mereka ditimpa was-was dari syetan, mereka mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (Qs: 7: 201)

"Syetan-syetan itu tidak dapat mendengarkan (pembicaraan) para malaikat (alam yang tinggi) dan mereka dilemparkan dari segala penjuru" ( Qs: 37:8)

"Sesungguhnya syetan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal  kepada Allah. Sesungguhnya kekuasaannya (syetan) hanyalah atas yang mengambilnya pemimpin dan atas orang yang mempersekutukannya dengan Allah" (Qs:16 :99,100)

Pada ayat ayat ini dijelaskan bahwa apabila objek meditasinya bukan tertuju kepada yang tak terhingga, yaitu zat yang tidak sama dengan makhluq-Nya, maka selain itu adalah wilayah syetan dan anak cucunya yang siap menerkam jiwa-jiwa yang tersesat. Maka jangan heran banyak ahli dzikir yang menyimpang seakan ia mendapatkan ilham dari Allah dan kemudian mengaku sebagai nabi, sebagai imam mahdi dan wali Allah. dan dengan seenaknya ia meninggalkan perintah-perintah Allah, tidak shalat, tidak zakat, dan berperi laku kharikul ‘adah (keluar dari ketentuan syariat Allah).

Untuk diketahui bahwa orang yang sampai kepada Allah adalah orang yang mampu menangkap ilham-ilham Allah dan itu tidak akan bertentangan dengan perintah yang tertulis dalam Alqur’an dan Al sunnah.

Kesombongan dan keangkuhan merupakan bukti keadaan jiwa masih terikat oleh pengaruh alam ciptaan. Untuk itu islam menolak didalam ibadahnya menggunakan sarana yang bukan Allah, seperti pembayangan guru, wasilah rasul, dan mantra-mantra, untuk menghantarkan jiwanya menuju Allah. Hal ini mustahil akan sampai kepada Allah yang maha mutlak, sebab bayangan sesuatu hanya akan menyampaikan jiwa menuju alam yang paling rendah yaitu alam-alam halusinasi, kekuatan alam, kekuatan jin dan syetan. Walaupun ia menggunakan sarana kalimat thayyibah (misalnya “Allah, laa ilaha illah, subhanallah”), kalimat-kalimat ini bukan sekedar kata-kata  yang tidak mempunyai makna, seperti para meditator ketika memulainya meditasi menggunakan sarana bayangan roh suci, patung dan mantra-mantra suci, maka hasilnya akan menjadi sama saja dengan mereka. Hanya sampai kepada pemuasan rasa tenang dan bahagia semata dan memanfaaatkan fenomena-fenomena kekuatan ghaib untuk atraksi kekuasaan dan ke”aku”an manusia. Alam ini masih termasuk dunia syahwat. 

Selama ilmu kita mengenai tuhan terbatas kepada apa yang dibayangkan oleh pikiran dan perasaan sebagai objek meditasi, selama itu pula kita berkutat dalam dunia spiritual yang menyimpang dari ketentuan islam.

Didalam akhir bab ini mari kita perhatikan firman-firman Allah tentang perdepatan kecil antara Allah dan syetan:

Allah berfirman : Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku- ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang (lebih ) tinggi ?

Iblis berkata ; Aku lebih baik dari padanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.

Allah berfirman: maka keluarlah kamu dari syurga, sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk.
Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atas kamu sampai hari pembalasan.
Iblis berkata: Ya Tuhanku … beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.
Allah berfirman: sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh.
Sampai hari yang telah ditentukan waktunya (hari qiyamat)
Iblis menjawab: Demi kekuasaan Engkau..aku akan menyesatkan mereka semua.
Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka….
(Qs: 38 :75-83)

Demikian penjelasan keadaan atau suasana meditasi,serta tanjakan-tanjakan yang banyak dilalui orang didalam bermeditasi atau tafakkur yang bersifat universal. Hal yang membedakan adalah, akhir dari perjalanan jiwa tersebut yaitu kembali pasrah kepada Allah yang maha mutlak (berislam= berserah diri secara total)..Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…..(tidak berhenti pada tahapan-tahapan alam)

Pada bab berikutnya saya akan mengajak anda membuka cakrawala meditasi dengan melatih mental spiritual. Salah satunya adalah shalat, yang merupakan sarana mikrajnya orang mukmin .dengan shalat inilah kita menyadari bahwa kita bertemu dengan Tuhan yang maha Agung.

Setelah memahami seluruh rangkaian pengetahuan yang saya tulis didalam setiap artikel . Mudah-mudahan  kita mendapatkan hidayah dari Allah Swt.  amin



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar